Jumat, 08 April 2011

TRILOGI ISLAM


ISLAM , IMAN, DAN IHSAN SEBAGAI 
TRILOGI AJARAN ILAHI [1]
Ma’turidi 


Muqaddimah

Di antara perbendaharaan kata dalam agama Islam ialah Islam, Iman, dan Ihsan. Berdasarkan sebuah Hadits yang terkenal, ketiga istilah itu memberi umat Islam (Sunni) ide tentang Rukun Islam yang lima, Rukun Iman yang enam, dan ajaran tentang penghayatan akan Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup. Dalam penglihatan itu, terkesan adanya semacam kompertementalisasi antara pengertian masing-masing istilah itu, tanpa bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.
Sudah tentu hakikatnya tidaklah demikian. Setiap pemeluk Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam (al-islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan imantidak sempurna tanpa ihsan (al-ihsan). Sebaliknya, ihsan adalah  mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin tanpa inisial islam. Dalam telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu dengan yang lain, bahkan tumpang tindih sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat islam dan ihsan, dalam islam terdapat iman dan ihsan, dan dalam ihsan terdapat iman dan islam. Dari sudut pengertian inilah kita melihat iman, islam, dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.
Trilogi itu telah mendapatkan ekspresinya dalam banyak segi budaya Islam. Arsitektur mesjid Indonesia yang banyak diilhami oleh, dan pinjam dari, gaya arsitektur kuil Hindu, mengenal adanya seni arsitektural atap bertingkat tiga. Seni arsitektural itu sering ditafsirkan kembali sebagai lambang tiga jenjang perkembangan penghayatan  keagamaan manusia,  yaitu tingkat dasar  permulaan  (purwa), tingkat menengah (madya), dan tingkat akhir yang maju  dan tinggi (wusana). Dan ini dianggap sejajar dengan jenjang vertikal islam, iman, dan ihsan, selain juga ada tafsiran kesejajarannya dengan syari’at, tharekat dan ma’rifat. Dalam bahasa simbolisme, interpretasi itu hanya berarti penguatan kepada apa yang secara laten telah ada hanya dalam masyarakat.
Berikut ini kita akan mencoba, berdasarkan pembahasan para ulama, apa pengertian ketiga istilah itu dan bagaimana wujudnya dalam hidup keagamaan seorang pemeluk islam. Diharapkan bahwa dengan memahami lebih baik pengertian iswtilah-istilah yang amat penting itu kemampuan kita menangkap makna luhur agama dan pesan-pesan sucinya dapat ditingkatkan.
Pembahasaan secara berurutan pengertian istilah-istilah di atas – paertama Islam, kemudian iman, dan akhirnya ihsan- dilakukan tanpa harus dipahami sebagai pembuatan kategori-kategori yang terpisah-sebagaimana sudah diisyaratkan-melainkan karena keperluan untuk memudahkan pendekatan analitis belaka. Dan di akhir pembahasan ini kita akan mencoba melihat relevansi nilai-nilai keagamaan dari iaman, islam dan ihsan itu bagi hidup modern, dengan mengikuti pembahasan-oleh seorang ahli psikologi yang sekaligus seorang pemeluk Islam yang percaya kepada agamanya, dan mampu menerangkan bentuk-bentuk pengalaman keagamaan Islam.

Pengertian Dasar Islam
Ada indikasi bahwa islam adalah inisialseseorang masuk ke dalam lingkaran ajaran Ilahi. Sebuah ayat suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengaku telah beriman, tetapi Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman, melainkan baru ber islam, sebab iman belum masuk ke dalam hati  mereka (lihat. Q.S. al-Hujurat/ 49 : 14 ). Jadi iman lebih mendalam daripada islam, sebab, dalam konteks firman itu, kaum Arab badui tersebut barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah, dan itulah makna kebahasaan perkataan :Islam”, yaitu “tunduk” atau “menyerah”. Tentang hadits yang terkenal, yang menggambarkan pengertian masing-masing islam, iman, dan ihsan, Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa agama memang terdiri dari tiga unsur : islam, iman, dan ihsan, yang dalam ketiga unsur itu  terselip makna kejenjangan : orang mulai dari islam, berkembang ke arah iman, dan muncak dalam ihsan Ibnu Taymuyyah menghubungkan pengertian ini denganfirman Allah, “ kemudian Kami (Allah) wariskan Kitab Suci  kepada kalangan para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada yang (masih)  berbuat zalim, dari mereka ada yang bergegas dengan berbagai kebajikan dengan izin Allah” –(Q.S.Fathir/35 : 32). Menurut Ibnu taymiyyah, orang yang menerima warisan kitab Suci (yakni , mempercayai dan berpegang kepada ajaran-ajarannya) namun masih juga berbuat zalim adalah orang yang baru berislam, menjadi seorang muslim, suatu tingkat permulaan – peibatan diri dalam kebenaran. Ia bisa berkembang menjadi orang yang beriman, menjadi seorang mu’min, untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat menengah (muqtashid), yaitu orang yang telah terbatas dari perbuatan zalim, namun perbuatan kebajikannya sedang-sedang saja. Dalam tingkatannya yang lebih tinggi, pelibatan diri dalam kebenaran itu membuat ia tidak terbebas dari perbuatan jahat atau zalim dan berbuat baik, bahkan ia “bergegas” dan memjadi “pelomba” atau “pemuka” (sabiq) dalam berbagai kebajikan, dan itulah orang yang telah ber-ihsan, mencapai tingkat seorang muhsin. Orang yang telah mencapai tingkat muqtashid dengan imannya dan tingkat sabiq dengan ihsannya, kata Ibnu Taymiyyah, akan masuk surga tanpa terlebih dahulu mengalami azab. Sedangkan orang yang pelibatannya dalam kebenaran baru mencapai tingkat ber-islam sehingga masih sempat berbuat zalim, ia akan masuk surga setelah terlebih dahulu merasakan azab akibat dosa-dosanya itu jika ia tidak bertaubat dan tidak diampuni Allah (lihat,  Ibnu Taymiyyah, Al-Iman (kairo : Dar al-Thibaat al-Muhammadiyyah, tt.) h. 11).
Pada saat ini, tentu saja, kata-kata “al-Islam” telah menjadi nama sebuah agama, khususnya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. ,yaitu Agama Islam. Tetapi, secara generik, “Islam” bukanlah nama dalam arti kata sebagai nama jenis atau sebuah proper noun. Dan ini melibatkan pengertian tentang istilah itu yang lebih mendalam, yang justru banyak diketemukan dalam kitab suci. Perkataan itu, sebagai kata benda verbal yang aktif, mengandung pengertian sikap pasrah atau menyerahkan diri kepada Tuhan. Dan sikap itulah yang disebutkan sebagai sikap keagamaan yang benar dan diterima Tuhan : “ Sesugguhnya agama bagi Allah ialah sikap pasrah kepadanya (al-islam)” (Q.S. Alu Imran/ 3 ; 19 ). Maka selain dapat diartikan sebagai nama sebuah agama, yaitu Agama Islam , perkataan “al-islam” dalam firman ini bisa diartikan secara lebih umum, yaitu menurut makna asal atau generiknya, “pasrah kepada Tuhan”, suatu semangat ajaran yang menjadi karakteristik pokok semua agama yang benar. Inilah dasar pandangan dalam al-Quran bahwa semua agama yang benar adalah agama Islam, dalam pengertian semuanya mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, sebagaimana antara lain bisa disimpulkan dari firman,
Dan janganlah kamu sekalian berbantahan dengan para penganut Kitab suci (Ahl al-Kitab) melainkan dengan yang lebih baik, kecuali terhadap mereka yang zalaim. Dan nyatakanlah kepada mereka itu, Kami beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada kami dan kepada yang diturunkan kepada kamu ; Thuan kami dan Tuhan kamu adalah Maha Esa, dan kita semua pasrah kepadaNya (muslimun)’ ( Q.S. al-‘Ankabut / 29 : 46 ).
Sama dengan perkataan “al-islam” di atas, perkataan “muslimun” dalam firman itu lebih tepat diartikan menurut makna generiknya, yaitu “orang-orang yang pasrah kepada Tuhan “. Jadi, seperti diisyaratkan dalam firman itu, perkataan muslimun dalam makna asalnya juga menjadi kualifikasi para pemeluk agama lain, khususnya para penganut kitab suci. Ini juga diisyaratkan  dalam firman,
Apakah mereka mencari (agama) selain agama Tuhan ? padahal telah pasrah (aslama, “ber-islam”) kepadaNya  mereka yang ada di langit dan di bumi, dengan taat adaupun secara terpaksa, dan kepaNyalah semuanya akan kembali. Nyatakanlah, Kami percya kepada Tuhan, dankepada ajaran yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepad aIbrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, serta anak turun mereka, dan yang disampaikan kepad aMusa dan Isa seta Para Nabi yang lain dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan mereka itu, dan kita semua pasrah (muslimun) kepadaNya. Dan barangsiapa  menganut agama selain sikap pasrah (al-islam) itu, ia tidak akan diterima, dan di akhirat termasuk orang – orang yang merugi (Q.S. Alu ‘Imran / 3 : 85 ).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang mereka yang pasrah (muslimun) itu mengatakan, yang dimaksud ialah “ mereka dari kalangan umat ini yang percaya kepad asemua Nabi yang diutus, dan kepada semua kitab suci yang diturunkan;  mereka tidak mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala sesuatu yang diturunkan di sisi Tuhan dan dengan semua Nabi yang dibangkitkan oleh Tuhan ‘ (tafsir Ibn Katsir ( beirut : Dar al-fikr, 1404 H. / 1984 M. ) j.l. h. 380 ). Sedangkan  al-Zamakhsari memberi makna pada perkataan muslimun sebagai “mereka yang bertahwid dan mengikhlaskan diri kepadanya”, dan mengartikan al-islam sebagai sikap memahaesakan (bertawhid) dan sikap pasrah diri kepada Tuhan “ (Tafsir al-Kashshaf  ( Teheran : Intisharat-e Aftab, tt.) j.l.h. 442 ).Dari bebagai keterangan itu dapat ditegaskan bahwa beragama tanpa sikap pasrah kepada Tuhan, betapapun seseorang mengaku sebagai “Muslim”, adalah tidak benar dan tidak diterima oleh Tuhan.
Selanjutnya   , penjelasan yang sangat penting makna “al-islam” ini juga di diberikan      oleh Ibn Taymiyyah. Ia mengatakan bahwa “al-islam” mengandung  du makna , pertama adalah sikap tunduk dan patuh, jadi tidak sombong; kedua adlah ketulusan dalam sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa, seperti ddifirmankan Allah, “wa rajulan salaman li rajulin” (Dan seorang lelaki yang tulus tunduk kepada satu orang lelaki ) (Q.S. al-Zumar / 39 : 29). Jadi orang yang tulus itu tidak musyrik, dan ia adalah seorang hamba yang berserah diri hanya kepada Allah. Pangeran sekalian alam, sebagaimana Allah firmankan ,
                Dan siapakah yang tidak suka kepada agama Ibrahim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. Padahal sungguh Kami memilihnya di dunia, dan ia di akhirat pastilah termasuk orang-orang yang salih. Krtika Tuhannya bersabda kepadanya, “Berserah dirilah  Engkau ! “ Lalu ia menjawab, “Aku berserah diri (aslamtu) kepada Tuhan seru sekalian alam.” Dan dengan ajaran itu Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, demikian pula  Ya’kub, “Wahai anak-anaku, sesungguhnya Allah telah memilihkan bagi kamu sekalian agama, maka janganlah sampai kamu mati kecuali kamu adalah orang-orang yang pasrah-Muslimun  (kepadaNya)  (Q.S. al- baqarah / 2 : 130 -132).
Katakan (hai Muhammad), “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhanku kearah jalan yang lurus. Yaitu agama yang tegak, ajaran Ibrahim, yang hamif, dan tidaklah dia termasuk orang-orang musyrik.” Katakanlah juga (hai Muhammad) , “Sesungguhnya sembahyangku, darmabaktiku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah, seru sekalian alam, tiada serikat baginya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama dari kalangan orang-orang yang pasrah. “ (Q.S. al-an’am / 6 : 161-163 ).
Dan kembalilah kamu semua kepada Tuhanmu, serta berserah dirilah kamu semua (aslimu) kepadaNya sebelum tiba kepada kamu azab, lalu kamu tidak tertolong lagi. “ (Q.S. al-Zumar / 39 : 54 ).
Demikian itu sebagian dari penjelasan yang diberikan oleh Ibn Taymiyyah tentang makna al-islam. (lihat, Ibn Taymiyyah, Al-Amr bi al-Ma’aruf Wa al-Nahy ‘an al-Munkar (Beirut : Dar al-Kitab al-Jadid, 1976), hh. 72-3). Berdasarkan pengertian-pengertian itu juga harus dipahami penegasan dalam al-Quran bahwa semua agama para Nabi dan rasul adalah agama Islam. Yakni, agama yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh, pasrah dan berserah diri secara tulus kepada Tuhan dengan segala qudrat dan iradatNya. Maka, sebagai misal, mengenai Nabi Ibrahim a.s. ditegaskan bahwa dia bukanlah seorang penganut agama komunal seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang tulus mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah kepada Tuhan (muslim)  (lihat Q.S. Alu ‘Imran / 3 : 67 ). Demikian agama seluruh Nabi keturunan Ibrahim khususnya Anak-cucu Ya’kub atau Bani Israil (Ya’kub), sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab Suci, demikian :
                   Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya’kub, dan ketika ia bertanya kepada anak-anaknya : “ Apakah yang akan kamu sekalian sembah sepeninggalku ? Mereka menjawab : Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kami semua pasrah (muslimun) (Q.S. al-Baqarah / 2 : 133).
                 Kemudian tentang Nabi Musa a.s. digambarkan melalui ucapan pertobatan Fir’aun bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan, dan agamanya pun, dengan begitu, adalah sebuah agama Islam, Kata Fir’aun, yang berusaha bertobat setelah melihat kebenaran : “ Aku percaya bahwa tiada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil dan akau termasuk orang-orang yang pasrah –muslimun—(kepada-Nya)” (Q.S. Yunus, 90: 10). Demikian pula, sebauah ilustrasi tentang Nabi ‘Isa dan para pengikutnya, menunjukkan bahwa agama yang diajarkannya pun adalah agama Islam, dalam arti agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya :
                  Maka ketika ‘Isa merasakan adanya sikap ingkar dari mereka (kaumnya), ia berkata, ‘Siapa yang akan menjadi pendukungku menuju Allah?’ Para pengikut setianya (al-hawariyyun) berkata. ‘Kamilah para pendukung (menuju) Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang pasrah—muslimun—(kepada-Nya). (Q.S. Ali-Imran, 3 : 52)
Karena semua agama yang benar adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak ada agama atau sikap keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada Tuhan atau Islam itu. Dan karena Islam pada dasarnya bukanlah suatu proper nama untuk sebuah agama tertentu (para nabi, rasul dan umat terdahulu yang digambarkan dalam Kitab Suci sebagai orang-orang yang pasrah kepada Tuhan itupun tidak menggunakan lafal harfiah “islam” ataupun “muslim” maka seorang pemeluk Islam sekarang ini, juga seorang Muslim, masih tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan kemauan untuk tunduk patuh serta pasrah dan berserah diri kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya. Hanya dengan itu agama keagamaanya bakal diterima Allah dan di akhirat tidak bakal termasuk mereka yang merugi. Inilah yang sebenarnya dimkasud oleh Firman Allah, “Sesungguhnya agama bagi Allah ialah al-islam (yaitu sikap pasrah yang tulus kepada-Nya). (Q.S. Ali Imran, 3 : 19 ), serta firman Allah : “ Dan barangsiapa menganut selain al-islam (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama, maka ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka yang menyesal (Q.S. Ali Imran. 3 : 85). Sudah terang bahwa islam dalam pengertian ini mustahil tanpa iman, karena ia dpat tumbuh hanya kalau seseorang memiliku rasa percaya kepada Allah yang tulus dan penuh.

Pengertian Dasar Iman
Kita telah mengetahui pengertian iman secara umum, yaitu sikap percaya, dalam hal ini khususnya percaya kepada masing-masing rukun iman yang enam ( menurut akidah sunni). Karena percaya kepada masing-masing rukun iman itu memang mendasari tindakkan seseorang, maka sudah tentu pengertian iman yang umum dikenal itu adalah wajar dan benar.
Namun, dalam dimensinya yang lebih mendalam, iman tidak cukup hanya dengan sikap batin yang percaya atau mempercayai sesuatu belaka, tapi menuntut perwujudan lahiriah atau eksternalisasinya dalam tindakkan-tindakkan. Dalam pengertian inilah kita memahami sabda Nabi bahwa iman mempunyai lebih dari tujuh puluh tingkat, yang paling tinggi ialah ucapan Tiada Tuhan selain Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan bahaya dari jalanan :
الايمان بضع و سبعون شعبة ،  املا ها قوت لا اله الا الله وادنا ها اما طة الا ذى عن الطريق.
Juga dalam pengertian ini kita memahami sabda Nabi : “ Demi Allah, ia tidak beriman !” lalu orang bertanya, “ Siapa, wahai Rasul Allah? “ Beliau menjawab, “ Orang yang tetanggnya tidak merasa aman dari kelakuan buruknya. “ Lalu orang bertanya lagi, “ Tingkah laku buruknya apa ? “ Beliau jawab, “ Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan”.
والله لا يؤ من والله لا يؤ من قيل : من با رسولاالله ؟ قال  : الذى لايؤ من جاره بواثقه قيل : وما بواثقه ؟ قا ل : شره وأذا ه.
Juga sabda Nabi, “ Demi Dia yang diriku ada di Tangan-Nya, kamu tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu tidak beriman sebelum kamu saling mencintai. Belumkah akau beri petunjuk kamu tentang sesuatu yang jika kamu kerjakan kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah perdamaian di antara sesama kamu !”.
واللذى نفسى بيده لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ولا تؤمنوا حتى تحابوا هو لاد كم على شيئ اذا فعلتموه تهابوا ؟ افشوا السلا م بينكم.
Keterpaduan antara iman dan perbuatan yang baik juga dicerminkan dengan jelas dalam sabda Nabi bahwa “Orang yang berzina, tidaklah beriman ketika ia berzina, dan orang yang meminuum arak tidaklah beriman ketika ia meminum arak, dna orang yang mencuri tidaklah beriman ketika ia mencuri, dan tidaklah orang akan membuat teriakan menakutkan yang mentgejutkan perhatian orang banyak jika memang ia beriman.”
لايزنى الزانى حين يزنى وهو مؤمنولا يشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن, ولا يسرق السا رق حين يسرق وهو مؤمن  ولا يضتبه النهبة يرفع النا س اليه وهو مؤ من.
Tiadanya iman dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu ialah karena iman itu terangkat dari jiwanya dabn “ melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan.” Demikian itu keterangan tentang iman yang dikaitkan dengan perbuatan baik atau budi perkerti luhur. (Lihat, Ibn Taymiyyah, al-Iman, H. 12-13)
            Berdasarkan itu, maka sesungguhnya makna iman dapat berarti sejajar dengan kebaikan atau perbuatan baik, ini dikuatkan oleh adanya riwayat tentang orang yang bertanya tetang iman kepada Nabi namun tutun wahyu jawaban tentan kebajikan (al-birr), yaitu firman Allah :
            Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan wajuahmu ke arah timur ataupun barat. Tetapi kebajikan ialah jika orang beriman kepada Allah. Hari kemudian, para malaikat, kitab suci, dan para Nabi, Dan jika orang mendermakan hartanya, betapapun cintanya kepada harta itu, untuk kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang terlantar di perjalanan, dan untuk orang yang terbelengu perbudakan. Kemudian jika orang itu menegakkan salat dan mengeluarkan zakat. Juga mereka yang menepati janji jika membuat perjanjian, serta tabah dalam kesusahan, penderitaan dan masa-masa sulit. Mereka itu lah orang-orang yang tulus, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Q.S. 2 : 177)
Oleh karena itu perkatan iman yang digunakan dalam Kitab suci dan Sunnah Nabi sering memiliki makna yang sama dengan perkataan al-birr (kebajikan), taqwa, dan al-din (kepatuhan, dalam hal ini kepatuhan kepada Tuhan). (Lihat Ibn Taymiyyah, Al-Iman, hh, 152-153).

Pengertian Dasar Ihsan

            Dalam Hadits yang disinggung di atas, Nabi menjelaskan, “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan kalau engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” Maka ihsan adlah ajaran tentang penghayatan pekat akan hadirnya Tuhan dalam hidup, melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap dan berada di depan Hadirat-Nya ketika beribadat. Ihsan adalah pendidikan atau latihan untuk mencapai taqwa dalam arti sesungguhnya. Karena itu, seperti dikatakan  Ibn Taymiyyah di atas, ihsan menjadi puncak tertinggi keagamaan manusia. Ia tegaskan bahwa makna ihsan lebih meliputi dari pada iman, dan, karena itu pelakunya adalah lebih khusus dari pada pelaku iman, sebagaimana iman lebih meliputi dari pada islam. Sebab dalam ihsan sudah terkandung iman dan islam, sebagaimana dalam iman sudah terkandung islam. (Lihat, Ibn Taymiyyah, Al-Iman, H. 11).
            Kemudian, kata-kata ihsan itu sendiri secara harfiah berarti “berbuat baik”. Seorang yang ber-ihsan disebut muhsin, sebagaimana seorang yang ber-iman disebut mu’min dan yang ber-islam disebut muslim. Karena itu, sebagai bentuk jenjang penghayatan keagamaan, ihsan terkait erat sekalai dengan pendidikan berbudi pekerti luhur atau berakhlaq mulia. Disabdakan oleh Nabi bahwa yang paling utama di kalangan kaum beriman ialah yang paling baik akhlaknya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits :
افضل المؤ منين ايمنا أحسنهم ختقا.
Dirangkaikan dengan sikap pasrah kepada Allah atau Islam, orang yang ber-ihsan disebutkan dalam Kitab Suci sebagai orang yang paling baik keagamanya :
ومن احسن دينا ممن اسلم وجهه لله وهو محسن وايبع ملة ابراهيم حنيفا (النسا ء :  1 : 125 )
            (Siapakah yang lebih baik dalam hal agama dari pada orang yang memasrahkan (aslama) dirinya kepada Allah dan dia adalah orang yang berbuat kebaikan (muhsin, “pelaku ihsan”), lagipula ia mengikuti agama ibrahim secara tulus mencari kebenaran (hanifan). ( Q.S. an-Nisa’, 4 : 125 ).

Ihsan dalam arti akhlaq mulia atau pendidikan ke arah akhlaq mulia sebagai puncak keagamaan dapat dipahami juga dari beberapa Hadits terkenal seperti “ Sesungguhnya akau diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi” :

انما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

Dan sabda beliau lagi bahwa “ Yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi pekerti”.
اكثرميدخل الناس الجنة تقوى الله وحسن الخلق (سبل السلام 4 : 212 )
            Jika kita renungkan lebih jauh, sesungguhnya makna-makna di atas itu tidak berbeda jauh dari yang secara umum dipahami oleh orang-orang Muslim, yaitu bahwa dimensi vertikal pandangan hidup kita (iman, dan taqwa, jabl min al-lah, dilambangkan oleh takbir pertama atau takbirat al-ihram dalam salat) selalu, dan seharusnya, melahirkan dimensi horizontal pandangan hidup kita ( amal salih, akhlaq mulia, habl min al-nas dilambangkan oleh ucapan salam atau taslim pada akhir salat). Jadi makna-makna tersebut sangat sejalan dengan pengertian umum tentang keagamaan. Di sini hanya dibuat penjabaran sedikit lebih mendalam dan penegasan sedikit lebih kuat terhadap makna-makna umum itu.


[1] Makalah disampaikan dalam Pembinaan Guru Ngaji Kec. Cihaurbeuti di Kantor Urusan Agama Kec. Chb. Kab. Ciamis pada tanggal 25 Januari 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar